Menguak Sejarah Maqam Ibrahim: Ternyata Bukan Kuburan, Melainkan Batu Penuh Keajaiban
Bagi umat Muslim yang pernah melaksanakan ibadah Haji atau Umrah, istilah "Maqam Ibrahim" tentu sudah tidak asing lagi. Letaknya berada di dalam kompleks Masjidil Haram, tepat di dekat Ka’bah dan terlindungi oleh struktur kaca berkubah emas. Namun, hingga saat ini, masih banyak masyarakat awam yang salah kaprah dan mengira bahwa Maqam Ibrahim adalah tempat peristirahatan terakhir atau kuburan Nabi Ibrahim AS.
Faktanya, kata "maqam" dalam bahasa Arab tidak selalu berarti kuburan (makam dalam bahasa Indonesia). Dalam konteks ini, maqam berarti "tempat berdiri". Maqam Ibrahim sebenarnya adalah sebuah batu tempat berdiri Nabi Ibrahim AS ketika beliau membangun Kakbah. Batu ini menyimpan sejarah luar biasa dan keajaiban yang melintasi zaman.
Asal-Usul dan Keajaiban Batu Maqam Ibrahim
Sejarah mencatat bahwa ketika Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, mendapat perintah dari Allah SWT untuk membangun kembali Kakbah, tinggi bangunan tersebut lama-kelamaan melampaui jangkauan tangan Nabi Ibrahim. Untuk menyiasatinya, Nabi Ismail AS mencarikan sebuah batu besar agar sang ayah bisa berdiri di atasnya dan melanjutkan susunan batu-batu Kakbah.
Di sinilah salah satu mukjizat nyata terjadi. Batu yang menjadi pijakan tersebut melunak layaknya lilin atau tanah liat, sehingga kedua telapak kaki Nabi Ibrahim AS tenggelam dan membekas secara mendalam di atasnya. Hingga hari ini, bekas kedua telapak kaki tersebut masih bisa dilihat dengan jelas.
Tak hanya itu, keajaiban lain dari batu ini adalah kemampuannya untuk naik dan turun secara otomatis sesuai dengan kebutuhan Nabi Ibrahim saat menyusun dinding Kakbah. Ketika beliau perlu menyusun bagian yang lebih tinggi, batu tersebut akan terangkat dengan sendirinya, dan akan turun kembali ketika beliau membutuhkan material batu dari Nabi Ismail.
Kedudukan Maqam Ibrahim dalam Islam
Maqam Ibrahim bukan sekadar situs sejarah biasa, melainkan salah satu tanda kebesaran Allah SWT yang nyata di muka bumi. Hal ini secara tegas diabadikan di dalam Al-Qur'an, Surah Ali Imran ayat 97:
"Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia..."
Selain sebagai simbol mukjizat, Maqam Ibrahim juga memiliki fungsi ibadah yang sangat penting. Setelah melakukan tawaf mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh putaran, umat Muslim disunnahkan untuk melaksanakan shalat sunnah tawaf dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan diperintahkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 125.
Pelestarian dari Masa ke Masa
Pada mulanya, batu Maqam Ibrahim ini terletak berdampingan langsung dengan dinding Kakbah. Namun, pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, posisi batu ini digeser sedikit menjauh demi kemaslahatan umat, agar orang yang melaksanakan shalat di belakang Maqam Ibrahim tidak mengganggu alur jamaah yang sedang melakukan tawaf.
Kini, untuk menjaga keaslian dan melindunginya dari kerusakan akibat cuaca maupun sentuhan jutaan jamaah, batu bersejarah ini dilapisi oleh perak dan diletakkan di dalam rumah kaca kristal yang kokoh dengan bingkai tembaga berlapis emas.
Memahami sejarah Maqam Ibrahim membuka mata kita bahwa situs ini adalah bukti nyata dari dedikasi, ketaatan, dan mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi Ibrahim AS dalam menegakkan rumah ibadah pertama di bumi.
Sumber :
https://an-nur.ac.id/blog/
https://islam.nu.or.id/sirah-nabawiyah/
