Sering Diabaikan! Pentingnya Menjaga Lisan dan Sikap Sejak di Dalam Pesawat Menuju Tanah Suci
Perjalanan menuju Tanah Suci selalu menjadi momen yang dinanti oleh setiap jamaah umrah maupun haji. Setelah berbagai persiapan dilakukan, tibalah saat keberangkatan yang penuh harapan dan doa. Di dalam pesawat, suasana biasanya dipenuhi oleh jamaah dari berbagai daerah, usia, dan latar belakang. Ada yang terlihat antusias, ada yang sibuk berzikir, dan ada pula yang berusaha beristirahat untuk mempersiapkan diri menghadapi perjalanan panjang.
Namun, tidak sedikit yang lupa bahwa perjalanan di dalam pesawat juga merupakan bagian dari rangkaian ibadah. Banyak jamaah yang tanpa sadar mulai mengeluh, mudah tersinggung, atau bersikap kurang sabar karena berbagai kondisi selama penerbangan. Padahal, menjaga lisan dan sikap sejak berada di pesawat merupakan salah satu bentuk kesiapan spiritual sebelum menginjakkan kaki di Tanah Suci.
Penerbangan dari Indonesia menuju Arab Saudi umumnya memakan waktu sekitar 9 hingga 11 jam. Waktu yang cukup panjang ini tentu dapat menguras tenaga dan emosi. Ruang gerak yang terbatas, kursi yang terasa sempit, antrean ke toilet, hingga jadwal penerbangan yang terkadang mengalami keterlambatan dapat menjadi ujian kesabaran bagi setiap jamaah.
Di sinilah sebenarnya ujian pertama dimulai. Sebelum memasuki Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, setiap orang diuji kemampuannya dalam mengendalikan diri. Ketika harus berbagi ruang dengan ratusan penumpang lain, ego sering kali muncul tanpa disadari. Keinginan untuk didahulukan, merasa paling berhak mendapatkan kenyamanan, atau mudah menyalahkan keadaan dapat menjadi penghalang bagi ketenangan hati.
Ada beberapa bentuk perilaku yang sering dianggap sepele, tetapi sebenarnya perlu dihindari. Salah satunya adalah kebiasaan mengeluh secara berlebihan. Misalnya, mencela makanan yang disajikan, mengeluhkan pelayanan awak kabin dengan nada kasar, atau terus-menerus mengomel karena keterlambatan penerbangan. Keluhan yang tidak terkontrol bukan hanya mengganggu orang lain, tetapi juga dapat mengurangi kekhusyukan dalam mempersiapkan diri untuk beribadah.
Selain itu, sikap egois juga kerap muncul selama penerbangan. Ada yang menggunakan ruang bagasi kabin secara berlebihan sehingga menyulitkan penumpang lain. Ada pula yang menurunkan sandaran kursi tanpa memperhatikan kenyamanan orang di belakangnya. Bahkan, berbicara terlalu keras ketika penumpang lain sedang beristirahat atau berzikir juga termasuk perilaku yang sebaiknya dihindari.
Hal lain yang sering terjadi adalah kurangnya kesabaran saat mengantre. Ketika hendak masuk pesawat, mengambil bagasi, atau menggunakan toilet, sebagian orang terburu-buru dan ingin didahulukan. Padahal, sedikit kesabaran dan tenggang rasa dapat membuat perjalanan menjadi lebih nyaman bagi semua pihak.
Dalam pandangan Islam, perjalanan menuju ibadah merupakan bagian dari safar yang memiliki nilai tersendiri. Karena itu, setiap waktu selama perjalanan sebaiknya dimanfaatkan untuk memperbanyak amal kebaikan. Menjaga lisan dari perkataan yang tidak baik dan menghindari pertengkaran merupakan latihan yang sangat berharga sebelum memasuki fase-fase ibadah yang lebih utama.
Membiasakan diri mengendalikan emosi sejak di pesawat juga akan membantu jamaah ketika nantinya menjalankan ibadah di Tanah Suci. Lingkungan yang ramai, antrean panjang, dan berbagai kondisi yang tidak selalu sesuai harapan membutuhkan kesabaran yang besar. Jika sejak awal sudah melatih diri untuk menjaga sikap, maka insyaAllah ibadah akan terasa lebih tenang dan khusyuk.
Agar perjalanan lebih bermakna, manfaatkan waktu selama penerbangan untuk memperbanyak zikir, membaca Al-Qur'an, atau mendengarkan kajian yang menambah semangat ibadah. Selain itu, cobalah untuk lebih peduli terhadap sesama jamaah. Memberikan senyuman, membantu lansia yang membutuhkan bantuan, atau sekadar bersikap ramah dapat menjadi amal yang bernilai di sisi Allah SWT.
Jangan lupa pula untuk menjaga kondisi fisik dengan beristirahat yang cukup. Tubuh yang lebih segar akan membantu seseorang mengendalikan emosi dan menjaga suasana hati tetap baik selama perjalanan.
Pada akhirnya, kesucian ibadah umrah dan haji tidak dimulai saat tiba di Mekkah atau Madinah, melainkan sejak langkah pertama meninggalkan rumah. Menjaga lisan, mengendalikan emosi, dan memperlakukan sesama dengan baik adalah bagian dari persiapan menuju ibadah yang lebih berkualitas. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan, kesabaran, serta keberkahan kepada seluruh jamaah yang sedang menempuh perjalanan menuju Tanah Suci, dan menjadikan setiap langkahnya sebagai jalan menuju ibadah yang diterima di sisi-Nya.
Sumber :
https://www.hadits.id/
https://konsultasisyariah.com/
https://kemenag.go.id/
