Tips Aman Bertransaksi di Pasar Makkah dan Madinah
Berbelanja oleh-oleh atau keperluan pribadi di pasar-pasar sekitar Makkah dan Madinah merupakan salah satu agenda yang kerap dilakukan jamaah umroh sebelum kembali ke tanah air. Tempat-tempat seperti Pasar Kakiyah di Makkah atau Pasar Kurma di Madinah hampir selalu ramai dikunjungi. Namun, agar kekhusyukan ibadah tidak terganggu oleh masalah non-teknis seperti kerugian finansial atau salah paham, jamaah perlu memahami cara bertransaksi yang aman dan cerdas.
Kondisi pasar di Tanah Suci yang sangat padat dan dinamis menuntut jamaah untuk lebih jeli. Berikut adalah beberapa tips aman bertransaksi saat Anda berbelanja di pasar Makkah dan Madinah.
- Siapkan Uang Tunai Riyal Pecahan Kecil
Meskipun teknologi pembayaran digital mulai berkembang di Arab Saudi, sebagian besar pedagang di pasar tradisional masih lebih menyukai transaksi tunai. Sering kali, pedagang enggan menerima pecahan besar seperti 500 Riyal jika Anda hanya membeli barang seharga 10 atau 20 Riyal. Oleh karena itu, selalu siapkan uang kertas pecahan 1, 5, 10, atau 50 Riyal di dalam dompet kecil yang mudah diakses untuk mempercepat proses pembayaran.
- Manfaatkan Kartu Debit atau Kredit untuk Transaksi Besar
Jika Anda berniat membeli barang bernilai tinggi seperti perhiasan emas, sajadah premium, atau kurma ajwa dalam jumlah grosir, hindari membawa uang tunai dalam jumlah banyak di dalam tas. Gunakan kartu debit atau kredit berlogo internasional (seperti Visa atau Mastercard) yang sudah diaktivasi untuk transaksi luar negeri. Selain lebih aman dari risiko pencurian, kurs yang dikenakan oleh bank biasanya cukup bersaing.
- Pelajari Seni Menawar Secara Sopan
Pasar tradisional di sekitar Makkah dan Madinah terkenal dengan budaya tawar-menawar. Pedagang sering kali menaikkan harga awal hingga 30% sampai 50% lebih tinggi, terutama kepada jamaah asing. Cobalah menawar dengan sopan. Banyak pedagang lokal yang sudah bisa memahami bahasa Indonesia sederhana. Anda juga bisa menggunakan kata baku seperti "Rakhis" (murah) atau "Kam Akhir?" (berapa harga pasnya?) saat bernegosiasi.
- Selalu Hitung Kembali Uang Kembalian di Depan Kasir
Di tengah situasi pasar yang bising dan berdesakan, kekeliruan dalam memberikan uang kembalian sangat sering terjadi—baik karena faktor ketidaksengajaan maupun kelalaian. Jangan terburu-buru meninggalkan toko setelah membayar. Hitung kembali uang kembalian Anda dengan cermat di depan pedagang tersebut. Jika ada kekurangan, Anda bisa langsung menegurnya saat itu juga.
- Hindari Belanja Sendirian dan Waspada Barang Tiruan
Selalu pergi berbelanja secara berkelompok atau minimal berpasangan dengan sesama jamaah dari rombongan Anda. Hal ini untuk meminimalisir risiko menjadi target kejahatan seperti copet di area yang padat. Selain itu, waspadalah terhadap pedagang kaki lima yang menawarkan parfum, jam tangan, atau herbal dengan klaim khasiat tinggi namun harganya tidak masuk akal, karena besar kemungkinan barang tersebut adalah barang tiruan.
Sumber:
https://kemenag.go.id/k
https://islam.nu.or.id/haji-umrah/x
https://travel.kompas.com/
https://www.indonesia.travel/
