Mengenal Bukit Shafa dan Marwah: Lebih dari Sekadar Tempat Sa'i
Bagi jamaah yang menunaikan ibadah umrah maupun haji, Bukit Shafa dan Marwah tentu bukan lagi nama yang asing. Kedua bukit batu yang kini telah berada di dalam bangunan megah Masjidil Haram ini menjadi saksi pelaksanaan sa'i—yakni berjalan dan berlari-lari kecil sebanyak tujuh kali dari Shafa ke Marwah dan sebaliknya.
Namun, Shafa dan Marwah bukan sekadar dua titik geografis penanda rual ritual ibadah. Di balik hamparan batuannya yang dilindungi glass wall tersebut, tersimpan sejarah monumental, simbol perjuangan, dan pelajaran hidup yang sangat mendalam bagi setiap Muslim.
1. Monumen Cinta dan Keteguhan Seorang Ibu
Sejarah Shafa dan Marwah tak lepas dari kisah Ibunda Siti Hajar dan putranya yang masih bayi, Nabi Ismail AS. Ditinggalkan di padang tandus yang sepi atas perintah Allah SWT, Siti Hajar tidak putus asa ketika perbekalan air habis. Demi menyelamatkan putranya yang menangis kehausan, beliau berlari bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali untuk mencari tanda-tanda kehidupan atau sumber air.
Usaha pantang menyerah yang diiringi ketakwaan luar biasa ini akhirnya dibalas Allah SWT dengan terpancarnya air Zamzam dari bawah kaki bayi Ismail.
2. Ditetapkan Sebagai Sya'airillah (Simbol Agama Allah)
Kegigihan Siti Hajar diabadikan langsung oleh Allah SWT sebagai bagian dari syariat ibadah haji dan umrah. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT menegaskan kedudukan istimewa kedua bukit ini:
"Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar-syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya..." (QS. Al-Baqarah: 158)
Melintasi jalur sa'i (mas'a) mengingatkan kita bahwa simbol-simbol keagamaan lahir dari ikhtiar nyata yang dilakukan dengan penuh keikhlasan.
3. Pelajaran Keseimbangan Antara Ikhtiar dan Tawakal
Hikmah terkemuka dari peristiwa Shafa dan Marwah adalah pelajaran tentang ikhtiar maksimal. Siti Hajar tahu secara logika bahwa berlari di antara dua bukit terik itu belum tentu menghasilkan air. Namun, beliau tetap melangkah dan berusaha sekuat tenaga.
Menariknya, pertolongan Allah (air Zamzam) tidak keluar dari atas bukit tempat Siti Hajar berlari, melainkan dari hentakan kaki Nabi Ismail. Ini mengajarkan bahwa tugas manusia hanyalah berikhtiar dan melangkah, sedangkan hasil dan jalan keluar adalah hak mutlak Allah SWT.
4. Pengingat Harapan di Tengah Kesulitan
Menyaksikan batuan Shafa dan Marwah saat sa'i seharusnya menghidupkan rasa optimisme dalam diri kita. Sebesar apa pun ujian hidup, krisis ekonomi, maupun masalah keluarga yang sedang dihadapi, selalu ada jalan keluar bagi mereka yang terus berusaha dan bergantung kepada Allah.
Saat melangkah di lintasan sa'i, resapilah setiap pijakan sebagai simbol bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan.
Sumber :
https://islam.nu.or.id
https://republika.co.id
https://rumaysho.com
https://almanhaj.or.id
https://hidayatullah.com
