Menelusuri Jejak Perjuangan Rasulullah: Mengapa Jabal Nur dan Jabal Tsur Wajib Dikunjungi?
Makkah Al-Mukarramah tidak hanya menjadi pusat ibadah bagi umat Islam, tetapi juga menyimpan hamparan sejarah yang mendalam tentang awal mula tegaknya Islam. Di balik bangunan-bangunan modern dan megah yang mengelilingi Masjidil Haram, terdapat bentang alam berupa perbukitan batu yang menjadi saksi bisu perjuangan suci. Dua di antaranya yang paling ikonik dan sarat akan nilai sejarah adalah Jabal Nur dan Jabal Tsur.
Bagi para jamaah umrah atau haji, meluangkan waktu untuk mengunjungi kedua gunung ini bukan sekadar aktivitas wisata biasa. Ini adalah momen untuk melakukan tadabur sejarah, merasakan langsung atmosfer perjuangan masa lalu, dan mempertebal rasa cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ. Berikut adalah alasan mengapa Jabal Nur dan Jabal Tsur menjadi destinasi yang sangat dianjurkan untuk dikunjungi saat Anda berada di Makkah.
Jabal Nur: Tempat Turunnya Wahyu Pertama dan Awal Kenabian
Jabal Nur, yang berarti "Gunung Cahaya", terletak sekitar 4 kilometer di sebelah timur laut Masjidil Haram. Dinamakan demikian karena dari puncak gunung inilah cahaya Islam pertama kali memancar ke seluruh dunia. Di puncak Jabal Nur, terdapat sebuah gua kecil yang dikenal sebagai Gua Hira.
Di gua yang sempit inilah, Nabi Muhammad ﷺ menghabiskan waktu berhari-hari untuk bertahannuts (menyendiri dan mendekatkan diri kepada Allah) demi merenungkan kondisi moral masyarakat Makkah kala itu. Di tempat ini pula, pada malam bulan Ramadan, Malaikat Jibril datang membawa wahyu pertama, yaitu Surat Al-Alaq ayat 1-5.
Mengunjungi Jabal Nur akan menyadarkan kita betapa beratnya medan yang harus ditempuh oleh Rasulullah ﷺ. Membayangkan beliau mendaki batuan terjal di tengah malam dalam kesunyian memberikan gambaran nyata tentang keteguhan jiwa beliau sebelum memikul tanggung jawab besar sebagai seorang rasul.
Jabal Tsur: Saksi Bisu Keteguhan Iman dan Strategi Hijrah
Jika Jabal Nur menandai awal mula kenabian, maka Jabal Tsur adalah simbol perlindungan dan titik balik penyebaran Islam. Gunung ini terletak di sebelah selatan kota Makkah dan memiliki Gua Tsur di puncaknya.
Gua Tsur menjadi tempat persembunyian Nabi Muhammad ﷺ bersama sahabat setianya, Abu Bakar Ash-Shiddiq, selama tiga hari tiga malam saat mereka hendak berhijrah ke Madinah. Ketika kaum kafir Quraisy mengejar dan berada persis di depan mulut gua, Abu Bakar merasa sangat cemas. Di momen krusial itulah, Rasulullah ﷺ menenangkan sahabatnya dengan kalimat yang diabadikan dalam Al-Qur'an: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita."
Melalui peristiwa di Jabal Tsur, kita belajar tentang pentingnya menyusun strategi dan ikhtiar yang matang, yang kemudian disempurnakan dengan tawakal yang sepenuhnya kepada Allah SWT. Keajaiban jaring laba-laba dan sarang burung merpati di mulut gua menjadi bukti nyata bahwa pertolongan Allah selalu dekat bagi hamba-Nya yang beriman.
Mengambil Hikmah dari Kunjungan Sejarah
Mengunjungi Jabal Nur dan Jabal Tsur memberikan pengalaman batin yang sangat membekas. Kelelahan fisik saat melihat atau mendaki medan yang berbatu dan gersang seolah membuka mata kita bahwa Islam tidak tegak dengan kemudahan, melainkan melalui tetesan keringat, darah, dan air mata para pendahulu kita.
Merasakan langsung atmosfer di kedua tempat bersejarah ini akan mengubah cara kita memandang ibadah. Kita tidak lagi sekadar membaca sirah nabawiyah di dalam buku, tetapi bisa merasakan langsung napas perjuangan tersebut. Hal ini diharapkan mampu memicu semangat kita untuk lebih istikamah dalam menjalankan sunah-sunah Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.
Pastikan fisik Anda dalam kondisi prima jika berniat melakukan pendakian, serta luruskan niat semata-mata untuk mengambil pelajaran (iktibar) tanpa melakukan perbuatan yang mengarah pada kelancangan dalam berakidah.
Sumber :
https://islamqa.info
https://almanhaj.or.id
https://dorar.net
https://islamweb.net
https://saudiembassy.net
