Menangis di Depan Multazam: Kenapa Tempat Ini Disebut Sebagai Sudut Paling Mustajab di Bumi?

Kategori : Kilas Hikmah, Ditulis pada : 23 Mei 2026, 09:03:05

Di antara jutaan titik di Masjidil Haram, ada satu area kecil yang selalu dipenuhi doa, harapan, dan air mata para jamaah. Tempat itu adalah Multazam, sebuah bagian di dinding Kakbah yang diyakini sebagai salah satu lokasi paling mustajab untuk berdoa. Tidak sedikit jamaah haji maupun umrah yang rela menunggu lama hanya untuk bisa berdiri beberapa menit di sana, merapatkan diri sambil memohon kepada Allah SWT.

Secara bahasa, kata “Multazam” berasal dari kata iltazama yang berarti “melekat erat” atau “merapatkan diri”. Nama ini menggambarkan bagaimana para jamaah menempelkan dada dan wajah mereka ke dinding Kakbah ketika berdoa. Letaknya berada di antara Hajar Aswad dan pintu Kakbah, dengan lebar area sekitar dua meter atau kurang lebih empat hasta. Meski kecil, area ini memiliki makna spiritual yang sangat besar bagi umat Islam di seluruh dunia.

Keistimewaan Multazam tidak muncul tanpa dasar. Dalam berbagai riwayat, tempat ini disebut sebagai lokasi yang penuh keberkahan dan menjadi tempat dikabulkannya doa. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Multazam adalah tempat dikabulkannya doa. Tidak ada seorang hamba pun yang berdoa kepada Allah di tempat itu, kecuali doanya akan dikabulkan.”
(HR. Al-Baihaqi)

Selain hadis tersebut, para sahabat Nabi juga mencontohkan amalan berdoa di Multazam. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abdullah bin Amr RA melakukan tawaf, kemudian salat dua rakaat, lalu menempelkan dada, wajah, kedua lengan, dan kedua telapak tangannya di Multazam. Ia berkata bahwa begitulah ia melihat Rasulullah ﷺ melakukannya. Riwayat ini menjadi dasar mengapa banyak jamaah berusaha mendekat dan berdoa di area tersebut.

Bagi banyak orang, pengalaman berada di Multazam sering kali menghadirkan suasana emosional yang sulit dijelaskan. Tidak sedikit jamaah yang menangis ketika berhasil sampai di sana. Hal ini bukan semata mata karena suasana haru, tetapi juga karena rasa kedekatan spiritual yang sangat kuat kepada Allah SWT.

Secara psikologis, menempelkan diri di dinding Kakbah membuat seseorang merasa benar-benar datang sebagai hamba yang penuh kekurangan. Di tempat itu, banyak orang mengadukan dosa, rasa takut, penyesalan, hingga harapan terbesar dalam hidupnya. Ditambah lagi, posisi Multazam yang berada di antara Hajar Aswad dan pintu Kakbah menciptakan suasana yang sangat sakral. Perasaan takut kepada Allah (khauf) dan harapan akan rahmat-Nya (raja’) bercampur menjadi satu, sehingga air mata sering kali mengalir tanpa disadari.

Meski demikian, ada adab yang perlu dijaga ketika berada di Multazam. Area ini sangat sempit dan hampir selalu padat oleh jamaah dari berbagai negara. Karena itu, setiap orang dianjurkan untuk tetap tertib dan tidak memaksakan diri. Jangan sampai keinginan untuk berdoa justru menyakiti atau memudaratkan orang lain dengan cara mendorong, menyikut, atau berebut secara berlebihan.

Jika memungkinkan, jamaah dapat menempelkan dada, wajah, kedua lengan atas, dan telapak tangan ke dinding Kakbah sambil berdoa dengan khusyuk. Namun apabila kondisi terlalu padat, berdoa dari dekat area tersebut tetap memiliki nilai ibadah yang baik. Yang terpenting bukan seberapa lama berada di sana, melainkan keikhlasan hati saat memohon kepada Allah SWT.

Multazam bukan sekadar sudut kecil di Kakbah. Bagi banyak jamaah, tempat itu menjadi ruang untuk kembali mengingat siapa diri mereka di hadapan Allah hamba yang penuh dosa, tetapi tetap memiliki harapan akan ampunan dan rahmatnya.

Sumber :
https://kemenag.go.id/
https://hadits.tazkia.ac.id/
https://almanhaj.or.id/ 

Cari Blog

10 Blog Terbaru

10 Blog Terpopuler

Kategori Blog

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id